Selasa, 23 September 2014

KEBUTUHAN SPIRITUAL KLIEN


Dengan bertambahnya perkembangan di era globalisasi hampir semua bidang kehidupan di dunia  mengikuti perkembangan itu. Dalam bidang kesehatan terdapat banyak perkembangan mulai dari alat kesehatan yang modern sampai dengan cara pengobatan yang berbeda dengan era sebelumnya. Secara spesifiknya, dalam bidang kesehatan saya membahas bidang keperawatan yang salah satu perkembangannya yaitu dengan adanya perawatan holistic yang diberikan perawat kepada kliennya, yang pada era sebelumnya juga masih belum ada. Perawatan holistic tersebut yaitu cara perawat memberikan perawatan kepada kliennya dengan tidak memberikan perhatian pada fisiknya saja tetapi secara fisiologis, sosiologis, psikologis, kultural, dan spiritualnya juga. Tetapi disini saya akan membahas tentang spiritualnya saja karena meskipun kita sudah berada pada era globalisasi tapi masih banyak masyarakat yang belum mengerti pentingnya kebutuhan spiritual seseorang yang dapat mempengaruhi kesehatannya.

Disadari atau tidak setiap manusia pasti mempunyai aspek spiritual, tergantung bagaimana cara mereka mengeksplor dan tingkat kecerdasan spiritual dalam diri masing – masing. Karena spiritualitas seseorang juga dapat mempengaruhi perasaannya termasuk dalam kebahagiaan seseorang. Peran perawat kini tidak dapat terlepas dari aspek spiritual kliennya maka dari itu perawat harus mempunyai tingkat kecerdasan spiritual yang tinggi agar dapat memberikan pelayanan secara efektif sehingga dapat terwujud mutu pelayanan yang baik dan pandangan professional dari seorang klien maupun masyarakat luar.

Spiritual adalah kepercayaan dalam diri seseorang dalam berhubungan dengan Tuhan, diri sendiri, orang lain, dan lingkungan  yang tidak ada batasan waktu sehingga terjadi secara terus menerus. “Spiritualitas adalah keyakinan dalam hubungannya dengan Yang Maha Kuasa dan Maha pencipta” (Dwidiyanti, 2008, p. 60). Dan secara umumnya spiritualitas memang mempunyai kedudukan yang tertinggi dalam hubungannya dengan Yang Maha Pencipta. Sedangkan menurut Hawari (2002), dasar kebutuhan spiritual manusia dibagi menjadi 5 yaitu arti dan tujuan hidup, perasaan misteri, pengabdian, rasa percaya, dan harapan – harapan disaat sedang mengalami kesusahan. Jadi dalam dunia keperawatan hubungan dengan Tuhan merupakan suatu hal yang sangat penting dan mendasari dari semua kebutuhan spiritual lainnya tetapi dilain sisi kebutuhan spiritual juga mencakup hubungannya dengan diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan.

Dwidiyanti (2008) mengatakan bahwa spiritualitas memberikan suatu perasaan yang berhubungan dengan intrapersonal (hubungan dengan diri sendiri), interpersonal (hubungan antara orang lain dengan lingkungannya), dan transpersonal (hubungan yang tidak dapat dilihat yaitu suatu hubungan yang berhubungan dengan ketuhanan yang merupakan kekuatan tertinggi). Dalam hubungannya dengan diri sendiri (interpersonal) seseorang dapat melakukan intropeksi diri dengan mengenal siapakah dirinya, mengapa ia seperti itu, dan apakah yang akan ia lakukan), serta melatih rasa percaya diri pada diri sendiri dan masa depannya kelak. Hubungan seseorang dengan lingkungannya (interpersonal) dapat dilihat dari bagaimana seseorang dapat peka, peduli, dan mengenali lingkungannya secara utuh termasuk dalam mengenali tanaman sekitar dan kondisi didaerah sekitarnya. Sedangkan hubungan dengan Tuhan (transpersonal) yaitu hubungan yang terpenting dan tertinggi bagi setiap manusia karena Dialah Yang Maha  Pencipta alam semesta dan seisinya, maka mereka patut untuk mempunyai keyakinan dalam mengagungkanNya. Bagi perawat karakteristik - karakteristik tersebut juga penting untuk memberikan pelayanan pada kliennya misalnya dalam penerapannya yaitu apabila ada kliennya yang sakit dan mengalami stress maka perawat dapat menerapkannya mulai dari intrapersonal yaitu membantu kliennya untuk mengenali diri sendiri bahwa mereka harus percaya pada diri sendiri bahwa ia adalah orang yang kuat dan ia akan sembuh, interpersonal yaitu dapat diterapkan dengan mengajak klien kealam bebas agar selain dapat mengenali alam sekitar mereka juga dapat menghilangkan sedikit perasaan stresnya selain itu juga menjalin hubungan yang harmonis kepada sesamanya seperti yang dinyatakan oleh Hungelman (1985) dalam Dwidiyanti (2007) bahwa kesehatan spiritual adalah rasa keharmonisan saling kedekatan antara diri sendiri dengan orang lain, alam,dan Tuhan, dan transpersonal yaitu perawat mengajak klien untuk dapat mempercayai bahwa Tuhan itu selalu ada untuk kita dan kesembuhannya merupakan anugerah dariNya. Sehingga dengan memenuhi karakteristik tersebut perawat dapat menjalin hubungan yang positif dan dengan penuh rasa percaya dari klien serta mencapai tujuan tentang keberadaannya sebagai seorang perawat.

Pada dasarnya spiritualitas mempunyai arti yang sangat luas tetapi dengan keluasan arti tersebut tetap ada perbedaan diantaranya yang pertama yaitu antara aspek spiritual dan aspek religi dimana aspek spiritual lebih menekankan pada hubungan dengan Tuhan dan seluruh isi alam sedagkan religi hanya mencakup hubungan seseorang dengan Tuhan, seperti yang didefinisikan oleh Smith (199), “religi berarti suatu system kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan Yang Maha Pencipta”. Jadi dapat diartikan bahwa religi adalah hal yang mendasari terjalinnya aspek spiritual seseorang. Kedua yaitu dimensi spiritual dan dimensi psikologi, kedua dimensi tersebut memang saling berkaitan erat tetapi juga sulit dibedakan.

“Dimensi psikologi berhubungan dengan hubungan antar manusia seperti : berduka, 
kehilangan, dan permasalahan emosional. Sedangkan dimensi spiritual merupakan 
segala hal dalam diri manusia yang berhubungan dengan pencarian makna, nilai – 
nilai, dan hubungan dengan Yang Maha Kuasa” Spilka, Spangler, dan Nelson (1983) 
dalam Dwidiyanti (2007).

Dan yang ketiga yaitu perbedaan penerapan konsep spiritual dan kebudayaan dimasyarakat, pada penerapan konsep spiritual biasanya terlahir dari dalam diri seseorang tanpa ada yang memerintahkan sedangkan penerapan konsep kebudayaan biasanya lahir dari kebiasaan – kebiasaan masyarakat yang akhirnya dipercayai masyarakat itu sendiri, misalnya jika da seseorang yang menurut masyarakat dia jahat dan banyak dosa maka orang itu akan memperoleh sakit yang parah dan sulit disembuhkan. Tetapi kedua konsep tersebut saling berkaitan dan berpengaruh karena kebudayaan masyarakatpun terlahir dari dalam diri seorang individu.Manifestasi spiritual adalah tindakan nyata dari pencerminan seseorang untuk dapat memahami tingkat spiritualitas manusia sesuai dengan dasar kebutuhan spiritual manusia terhadap penciptaNya, diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. Semua manusia pasti mempunyai dimensi spiritual, dan semua klien akan mengekspresikan dan memanifestasikannya kepada perawat dengan harapan perawat akan mengerti tentang apa yang diinginkan dari klien. 

Manifestasi perubahan fungsi spiritual terbagi menjadi dua yaitu yang pertama verbalisasi distress dimana individu yang mengalami gangguan  fungsi spiritual, biasanya  akan meverbalisasikan yang dialaminya untuk mendapatkan bantuan. Kedua yaitu perubahan perilaku dimana klien merasa cemas dengan hasil pemeriksaan atau menunjukkan kemarahan setelah mendengar hasil pemeriksaannya diluar dari dugaannya.  Dengan manifestasi spiritual maka perawat akan lebih mudah dalam menggambarkan kondisi klien karena salah satu kunci yang dimiliki mereka adalah ekspresi mereka ketika berperilaku misalnya memberikan pandangan bahwa penyakit itu sebagai anugerah atau bahkan penyakit itu sebagai bentuk kejahatan manusia.

Menurut Taylor  & Craven (1997) dalam Dwidiyanti (2008), factor – factor yang mempengaruhi spiritual seseorang adalah tahap perkembangan seseorang dimana manusia mempunyai persepsi tentang Tuhan yang berbeda menurut usia, seks, agama, dan kepribadian anak. Factor keluarga yaitu peran orangtua menentukan dalam perkembangan spiritual anak. Faktor latar etnik dan budaya dapat mempengaruhi sikap, keyakinan, dan nilai seseorang untuk mengikuti tradisi agama dan spiritual keluarga. Faktor pengalaman hidup sebelumnya yaitu baik yang positif maupun negative yang dapat mempengaruhi spiritual seseorang juga. Factor krisis dan perubahan yaitu dapat menguatkan kedalaman spiritual seseorang. Dan factor terpisah dari ikatan spiritual yaitu apabila individu menderita sakit bersifat akut seringkali membuatnya terpisah atau kehilangan kebebasan pribadi dan dukungan social dari orang – orang disekitarnya. Serta factor isu moral terkait dengan terapi, konflik antara jenis terapi dengan keyakinan agama sering dialami klien dan tenaga kesehatan.

Dengan berbagai permasalahan yang berhubungan dengan spiritualitas maka perawat sebelum menangani klien harus memenuhi dahulu dasar kebutuhan spiritualnya agar nantinya dapat memberikan pelayanan yang efektif. Dwidiyanti (2008) menyebutkan cara – cara yang dapat dilakukan dalam pemenuhan kebutuhan spiritual perawat diantaranya beribadah dalam suatu komunitas, berdoa, meditasi, pembenaran yang positif, menulis pengalaman dan mencari dukungan spiritual.

Peran perawat dalam melakukan beberapa hal yang dapat membantu kemampuan untuk memenuhi kebutuhan klien, diantaranya : Menciptakan rasa kekeluargaan antara perawat dengan  klien dimana perawat harus membangun kepercayaan klien terlebih dahulu, berusaha mengerti maksud klien yang menuntut perawat agar komunikator dengan klien dari berbagai usia, berusaha untuk selalu peka terhadap ekspresi non verbal maka perawat harus mengenal ekspresi wajah klien, berusaha mendorong klien untuk mengekspresikan perasaannya biasanya dengan kepercayaan klien terhadap perawat maka tanpa disuruh mengekspresikan maka klien akan mengekspresikan sendiri tentang perasaannya, berusaha mengenal dan menghargai klien biasanya hubungan antara perawat dan klien sudah terjalin sangat erat.

Jadi dapat disimpulkan bahwa kebutuhan spiritual adalah keyakinan manusia dalam berhubungan secara intrapersonal, interpersonal maupun transpersonal. Aspek spiritualitas berbeda dengan aspek religi yang hanya mncakup keagamaan, berbeda dengan dimensi psikologi yang mencakup tentang hubungan dengan manusia saja dan berbeda dengan penerapan kebudayaan yang lahir dari kebiasaan – kebiasaan masyarakat. Dengan adanya perbedaan dan masalah maka seorang perawat dapat memanifestasikan spiritual agar lebih mudah dalam menggambarkan keadaan seorang klien. Selain disebutkn perbedaan dan manifestasiya maka spiritual juga terdapat factor – factor yang berpengaruh salah satunya yang paling mendasar adalah factor keluarga dimana kepribadian seseorang terbentuk dari keluarganya tersebut dan cara pemenuhan oleh perawat salah satunya yaitu beribadah dalam suatu komunitas. Dan peran perawat harus bisa menjalin hubungan positif, membangun kepercayaan pada klien, dan mencapai tujuan tentang keberadaannya sebagai seorang perawat, serta selalu memberikan pelayanan spiritual secara penuh karena sangat mempengaruhi kesehatan dan self care klien.

DAFTAR PUSTAKA
Dwidiyanti, M. (2008). Konsep "Caring", komunikasi, etik, dan aspek spiritual dalam pelayanan keperawatan. Semarang: Penerbit Hasani.
Patricia A Potter, Anne Griffin Perry. (1999). Fundamental Keperawatan (Vol. 1). Jakarta: EGC.
Dwidiyanti, M. (2007). "Caring" Kunci Sukses Perawat/Ners Mengamalkan Ilmu. Semarang: Penerbit Hasani.